WELCOME

KENDARI SOUTH EAST SULAWESI INDONESIA

Laman


Minggu, 01 Mei 2011

Ngkaringkari, The Little Bali On Buton Raya


Kelurahan Ngkaringkari, Kecamatan Bungi, Kota Baubau menyimpan pesona budaya dari etnis pendatang. Masyarakat Bali yang datang ke Kota Baubau melalui program transmigrasi, turut membangun daerah ini serta tetap menjaga kebudayaan mereka. Masyarakat etnis Buton dan Bali hidup rukun di sini. Ngkaringkari sering disebut sebagai "The Little Bali". Ini bisa dikatakan nilai plus bagi para wisatawan yang datang ke Buton Raya sebab, bila Anda ke Bali, anda cuma melihat budaya Bali. Tapi, jika berkunjung ke Baubau dan menyempatkan diri ke Ngkaringkari, Anda bukan hanya bisa melihat budaya Buton Raya tapi juga budaya Bali. Di Ngkaringkari, Anda bisa melihat pemandangan indahnya sawah dan lahan pertanian lainnya yang terlihat sejauh mata memandang. Suasana pedesaan beserta keramahan warganya merupakan hal menarik yang tak boleh Anda lewatkan. Waktu yang tepat untuk mengunjungi daerah ini ialah saat perayaan hari besar agama Hindu.
Mengarak Butha Kale dari ujung kampung ke ujung lainnya adalah salah satu ritual yang dilakukan oleh umat Hindu di Kelurahan Ngkaringkari, Kecamatan Bungi, Kota Baubau menjelang ritual nyepi. Semua umat Hindu di seluruh Indonesia melakukan hal serupa.
Ritual Ogoh-ogoh merupakan acara tahunan. Acara ini menjadi perhatian warga setempat bahkan sangat ramai karena warga dan wisatawan Kota Baubau berdatangan ke Ngkaringkari untuk menyakasikannya.
Butha Kale pada ritual ogoh-ogoh itu tidak hanya sekedar diarak oleh sepuluh pria berpakaian serba putih dan berikat kepala. Tetapi mereka juga melakukan gerakan menari diiringi gendang dan alat musik tradisional. Gerakan itu dilakukan sepanjang jalan dari ujung timur ujung barat lalu kembali lagi ke timur.
Setiap tempat yang dilalui Butha Kale diyakini bisa menghilangkan sial yang oleh masyarakat Kelurahan Ngkaringkari disebut aura negatif alam. Butha Kale adalah perwujudan iblis yang sangat besar (raksasa) berwarna merah, bertaring, memegang kapak, kuku kaki dan tangan tajam, berambut panjang dan ditemani dua ekor monyet.
Sehari sebelum ritual ogoh-ogoh digelar, umat Hindu Ngkaringkari melakukan melasti di Pantai Lamboro. Melasti adalah ritual membuang segala kekotoran alam semesta yang tertanam dalam jiwa manusia. Usai melasti, digelar pirse lalu sawer pesange yang bertujuan untuk memberi persembahan kepada Butha Kale.
Butha Kale bisa diartikan sebagai mahluk yang berada di bawah manusia. Sedangkan persembahan untuk Butha Kale bertujuan untuk menciptakan keseimbangan alam semesta sekaligus bisa dijauhi dari semua ganguan dalam bentuk apapun pada saat ritual nyepi.
Butha Kale pada ogoh-ogoh di Ngkaringkari terbuat dari gabus menyerupai raksasa setinggi kurang lebih 3 meter. Butha Kale diletakkan di atas beberapa bambu-bambu yang diikat menyatu menyerupai salah satu permainan dalam pramuka, lalu diarak sejauh kurang lebih 7 km
Selain Butha Kale ternyata ada dua orang pelengkap memakai topeng yang menyerupai Butha Kale ikut menari-nari. Dua orang ini juga menjadi salah satu pusat perhatian setiap orang yang menonton. Kebanyakan anak-anak takut untuk mendekatinya.
Butha Kale di penghujung ritual harus dibakar. Maksudnya, agar seluruh kesialan yang mengikut bersamanya ikut terbakar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar