WELCOME

KENDARI SOUTH EAST SULAWESI INDONESIA

Laman


Senin, 23 April 2012

Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Indonesia








Sumber : http://visitindonesiaraya.blogspot.com

Destinasi kali ini akan mengusik jiwa petualang anda. Sebuah kawasan yang masih terbilang masih asli menawarkan perjalanan yang tak terlupakan. Adalah Kepulauan Tukang Besi, sebuah gugusan kepulauan yang terdiri dari empat pulau besar dengan luas sekitar 821 km2. Empat pulau besar tersebut adalah Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko yang oleh masyarakat setempat biasa diakronimkan sebagai WAKATOBI.
Sebagaimana namanya, Tukang Besi, kepulauan ini memang terkenal dengan pembuatan keris tradisional yang indah dan tetap diproduksi hingga sekarang. Gugusan kepulauan ini memiliki alam yang masih asli, tenang dengan air laut yang segar, gua-gua bawah laut yang saling berdekatan satu sama lain yang disuguhkan khusus untuk pecinta alam sejati. Bisa dikatakan bahwa wilayah ini merupakan kawasan wisata taman laut pertama di Indonesia.

Meski menyelam bisa dilakukan setiap saat, tetapi bulan April dan Desember adalah bulan yang paling baik untuk melakukan penyelaman karena cuacanya sangat bagus. Di samping menyelam dan snorkling di pantai juga disediakan khusus motor selam, tour snorkling dan penjelajahan di kepulauan. Sebuah kawasan kecil yang berlokasi di samping pulau Tomia seluas 8 km2, bernama Pulau Tolandona (Pulau Onernobaa) memiliki keunikan karena pulau ini dikelilingi taman laut yang indah.

Setelah menempuh perjalanan 5-6 jam dengan kapal cepat dari Kendari, Bau-Bau menjadi tempat transit berikutnya ke Wakatobi. Perjalanan tidak dapat langsung karena jadwal penyeberangan Bau-Bau-Wanci, pintu gerbang Wakatobi terbatas. Lagi pula penyeberangan dengan kapal kayu sekitar satu hari akan sangat melelahkan. Jalur yang biasa dipakai dari Bau-Bau adalah perjalanan darat ke Lasalimu, kecamatan di sebelah tenggara Bau-Bau, sekitar 3 jam. Selanjutnya menyeberang ke Wakatobi. Itu pun jadwal penyeberangan sekali sehari, pukul 06.00.

Ada dua macam suku di Kepulauan Tukang Besi, yaitu Tukang Besi utara dan selatan. Total penduduk kedua suku tersebut kini mencapai kisaran 250.000 orang, tersebar di empat pulau besar Wakatobi. Mata pencarian suku Tukang Besi adalah bertani. Makanan pokok mereka adalah ubi-ubian, yang biasa dibakar dan dimakan bersama ikan. Suku Tukang Besi selatan juga termasuk rumpun suku Buton. Ketergantungan hidup mereka terletak pada hasil laut yang menjadi santapan sehari-hari.

Jika anda ingin berkunjung ke Wakatobi, pada bulan Juli-September ombak bisa setinggi gunung. Namun, bagi anda yang berjiwa petualang, ombak besar tidak menjadi halangan untuk mengunjungi gugusan kepulauan di antara Laut Banda dan Laut Flores ini. Tapi bila anda ingin lebih ‚aman’, bulan Oktober sampai awal Desember merupakan pilihan terbaik menikmati keindahan di Wakatobi. Begitulah beberapa pesan penduduk Wakatobi yang ditemui di Kota Bau-Bau.

Sebenarnya Wakatobi tidak hanya mengandalkan transportasi laut dari Bau-Bau atau Lasalimu. Sejak tahun 2001, transportasi udara bisa menjangkau wilayah kepulauan di timur Pulau Buton ini. Namun, ongkos perjalanan sangat mahal, selain itu transportasi udara hanya melayani jalur Denpasar-Wakatobi dengan jadwal tiap 11 hari.

Kepulauan Tukang Besi mempunyai 25 gugusan terumbu karang yang masih asli dengan spesies beraneka ragam bentuk. Terumbu karang menjadi habitat berbagai jenis ikan dan makhluk hidup laut lainnya seperti moluska, cacing laut, tumbuhan laut. Ikan hiu, lumba-lumba dan paus juga menjadi penghuni kawasan ini. Kesemuanya menciptakan taman laut yang indah dan masih alami.

Taman laut yang dinilai terbaik di dunia ini sering dijadikan ajang diving dan snorkling bagi para penyelam dan wisatawan. Sejak tahun 1996, kawasan Wakatobi ditetapkan sebagai taman nasional.
Kawasan wisata juga terdapat di Pulau Wangi-Wangi, Hoga, pulau di sebelah Kaledupa dan Binongko. Selain snorkling dan diving, aktivitas pariwisata lain yang bisa dinikmati adalah pemandangan pantai, menyusuri gua, fotografi, berjemur, dan camping.

Empat pulau besar di Wakatobi memiliki karakteristik khusus, yakni setiap pulau merupakan satu wilayah kecamatan, kecuali Pulau Wangi-Wangi yang terdiri dari dua kecamatan. Wangi-Wangi, pulau pertama yang dijumpai saat memasuki Kabupaten Wakatobi, menjadi pintu gerbang dan paling dekat dengan Pulau Buton. Di sini terdapat pelabuhan besar yang melayani kapal barang dan penumpang di Desa Wanci. Jika Pulau Wangi-Wangi menjadi pintu gerbang transportasi laut, maka Pulau Tomia menjadi pintu gerbang transportasi udara.

Keindahan daratan

Baiklah, sebelum lebih jauh membicarakan Wakatobi, hal terpenting yang harus diutarakan adalah bagaimana mencapai kabupaten itu.

Cara terbaik dan termurah saat ini adalah datang dulu ke ibu kota Sulawesi Tenggara, Kendari. Dari sana, kapal reguler menuju Pulau Wangiwangi berangkat tiap pagi pukul 10 dan akan tiba di tujuan sekitar 10 sampai 12 jam kemudian. Dari Wangiwangi, perjalanan ke pulau-pulau lain bisa ditempuh dengan perahu-perahu sewaan atau perahu reguler yang sederhana, tetapi cukup aman.

Saat ini sebuah bandara sedang disiapkan di Wangiwangi. Kalau bandara ini selesai, diperkirakan pertengahan 2008, untuk mencapai Wangiwangi bisa dilakukan dengan penerbangan dari Bali, Makassar, atau Manado.


Hanya penyelamankah pesona Wakatobi?


Bukan sama sekali. Bisa dikatakan Wakatobi indah di atas dan di bawah sekaligus. Alam di sana masih bersih dan itu bisa dilihat dari beningnya sungai-sungai di sana. Perahu seakan melayang karena air di bawahnya seakan tidak terlihat.

Kesadaran akan kebersihan ini sangat disadari masyarakat setempat. Sampah plastik umumnya dikumpulkan di suatu tempat untuk dijual kepada penadah. Selain membuat pemasukan bagi penduduk, kesadaran ini relatif menjaga kelestarian alam di sana.

Pesona darat Pulau Wangiwangi adalah pada mata air-mata air di celah-celah bukit kapur, juga beberapa benteng dan masjid tua sisa Kerajaan Buton. Adapun Pulau Kalidupa dan Tomia kaya pemandangan pantai serta tarian tradisional.

Pulau terujung, yaitu Binongko, yang dulu dikenal sebagai Pulau Tukang Besi, memang dipenuhi para pandai besi. Mereka mengerjakan pembuatan aneka alat rumah tangga yang dijual sampai Makassar. Saat mereka menempa besi panas adalah atraksi menarik. Sayangnya, sebagian pandai besi sudah memakai pipa pralon menggantikan bambu sebagai alat peniup api.

Di Pulau Binongko pula penenun tradisional masih memberi pesona fotografis. Tenun yang mereka buat selama sepekan sampai sebulan bisa langsung dibeli dengan harga antara Rp 100.000 (USD $. 10) sampai Rp 1 juta (USD $. 100) tergantung mutu.

Pastikan Wakatobi menjadi destinasi kunjungan anda selanjutnya. Berikan liburan yang sedikit berbeda kepada keluarga anda.

Senin, 09 April 2012

Danau Napabale, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara




Sumber : travel.detik.com

Ada danau unik di Sulawesi Tenggara, Danau Napabale namanya. Danau ini cukup unik karena memiliki air yang asin. Yuk, datang langsung ke sana.
Danau Napabale merupakan danau air asin yang berada di kaki bukit Desa Lohia, Muna, Sulawesi Tenggara. Danau ini bersebelahan dengan laut yang dihubungkan dengan terowongan alam sepanjang 30 meter dengan lebar 9 meter.
Terowongan alam yang ada di Danau Napabale, merupakan pemasok air danau yang berasal dari laut. Oleh karena itu, air Danau Napabale pun terasa asin. Selain sebagai pemasok air, terowongan juga asyik dijadikan tempat wisata, dan sering dilewati para pelancong yang datang.
Jika Anda datang pada saat air surut, terowongan tersebut bisa ditelusuri dengan menggunakan perahu pincara. Tapi jangan sekali-kali mencoba saat air laut sedang pasang, karena terowongan tersebut akan tertutup air.

Mengunjungi Danau Napabale, berarti Anda akan menikmati dua pesona wisata alam sekaligus, yaitu danau dan pantai. Dari danau, Anda bisa menikmati indahnya pemandangan berupa hamparan pepohonan yang menyejukkan.

Kegiatan paling asyik untuk menikmati Danau Napabale adalah dengan berlayar atau pun menyelam. Wisatawan yang datang bisa berlayar menggunakan sampan atau perahu yang disewakan oleh nelayan di sekitar danau. Cukup dengan membayar Rp 50.000, Anda sudah bisa menikmati keindahan alam Danau Napabale dari atas sampan.
Untuk Anda yang hobi menyelam, jangan lewatkan juga kesempatan untuk menyaksikan pemandangan bawah air Danau Napabale yang menakjubkan. Puas menikmati suasana danau, Anda bisa menyeberang melewati terowongan menuju tepi pantai.

Eits, tapi jangan puas dulu dengan keliling danau dan bermain di pantai, masih ada kegiatan seru lain yang bisa Anda lakukan, yaitu telusur gua. Tak jauh dari Danau Napabale, ada objek wisata berupa situs purbakala, Gua Layang-layang namanya. Jika masuk ke dalam gua, wisatawan bisa melihat lukisan-lukisan hasil karya manusia zaman prasejarah

Penasaran ingin berkunjung langsung? Caranya mudah, Anda bisa berangkat dari Pelabuhan Raha atau Bandara Walter Mongonsidi. Dari Pelabuhan Raha, wisatawan bisa menggunakan perahu kecil menuju Teluk Muna. Waktu tempuh pun sangat singkat, hanya 15 menit.

Jika memulai perjalanan dari Bandara Walter Mongonsidi yang berada di Kota Kendari, Anda bisa melanjutkan perjalanan menuju Bandara Sugimanuru di Muna. Tunggu apalagi? Segera masukan Danau Napabale sebagai alternatif liburan panjang Anda nanti.

Katakan Cinta di Air Terjun Moramo, Sulawesi Tenggara



dikutip dari : KENDARINEWS.COM

Air terjun Moramo di Sulawesi Tenggara, dapat menjadi saksi pernyataan cinta Anda kepada calon pasangan. Di sini terdapat air terjun yang unik dan nuansa alam indah. Konon, tempat ini pun dipercaya sebagai pemandian bidadari. Siapkan strategi pernyataan cinta Anda kepada calon pasangan, dengan cara mengajaknya berkunjung ke air terjun Moramo. Air terjun Moramo berada di Kawasan Suaka Alam Suaka Margasatwa Tanjung Peropa. Berjarak sekitar 60 km dari kota Kendari, Sulawesi Tenggara dan dapat ditempuh dengan menggunakan mobil. Selama perjalanan menuju air terjun Moramo, Anda akan disuguhkan pemandangan hutan yang hijau dan luas, beragam hewan dan tentunya udara yang sejuk.

Air terjun Moramo berbeda dengan air terjun pada umumnya. Air terjun Moramo merupakan air terjun bertingkat dengan ketinggian 100 meter. Air terjun ini memiliki 7 undakan yang besar, serta puluhan undakan yang kecil. Selain itu, di sekitar air terjun juga terdapat banyak batu marmer besar dan menambah keelokan pemandangan.

Suasana di sekitar air terjun sangat tenang dan alami. Gemercik suara air tejun dan dinginnya air dapat Anda rasakan. Selain itu, Anda juga bisa menjelajahi setiap tingkatan di air terjun ini. Tidak perlu takut, sebab daerah bebatuan di sekitar air terjun tidak licin. Tempatnya yang teduh dipercantik dengan banyaknya kupu-kupu akan menambah keindahan pesona air terjun Moramo.
Jika beruntung, Anda dapat melihat pelangi sebagai biasan cahaya di sekitar air terjun. Tak heran, masyarakat setempat mempercayai tempat ini sebagai pemandian para bidadari karena keindahannya.

Air terjun Moramo adalah salah satu tempat yang cocok untuk menyatakan cinta Anda kepada calon pasangan. Petualangan bersama menuju air terjun ini, hingga keindahan air terjun yang membuat Anda berdua terpesona, akan membuat pernyataan cinta Anda terasa lebih manis dan berkesan.

Resor di Wakatobi Dianugerahi Resor Ekowisata Terbaik di Dunia


dikuti dari : KENDARINEWS.COM

MEMPERINGATI hari bumi pada 31 Maret 2012, situs wisata CNNgo membuat daftar hotel dan penginapan ekowisata terbaik di seluruh dunia. Hebatnya lagi, Wakatobi Dive Resort yang ada di Wakatobi, Indonesia, turut masuk dalam daftar tersebut.

Resor yang ada di Sulawesi Tenggara itu disebut sebagai resor dengan salah satu lokasi diving terbaik di seluruh dunia, yang juga terus memfokuskan diri terhadap isu-isu konservasi laut dan juga pengembangan masyarakat. "Wakatobi Dive Resort membantu lingkungan di sekitarnya, mencegah terumbu karang sekitarnya rusak," tutur Justin Francis, pendiri responsibletravel, situs wisata yang turut menilai bagaimana resor ini bisa masuk dalam daftar hotel ekowisata terbaik di dunia.

"Resor ini mempekerjakan 150 orang masyarakat setempat dan menciptakan program Collaborative Community Based Reef Management, yaitu membuat suaka terumbu karang," tutur Justin lagi.

Desa-desa sekitarnya juga menerima insentif keuangan untuk meningkatkan infrastruktur mereka. Kontribusi lainnya dari resor ini adalah untuk pendidikan dan memperkuat dukungan lokal untuk melindungi kehidupan laut yang berharga di wilayah tersebut. Saat ini, program konservasi melindungi lebih dari 22 mil dari terumbu karang di wilayah tersebut.

Setiap tamu yang menginap di resor ini dapat mengeksplorasi surga Wakatobi di bawah laut yang hanya terletak beberapa menit dari resor sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk mencapainya. Selain itu di resor ini sudah disewakan penyewaan kapal, serta juga alat-alat selam. Ada pula fasilitas spa untuk memanjakan diri setelah lelah menyelam di laut.

Sarana Rekreasi Waterboom di Kendari Dibuka


dikutip dari : http://www.traveltextonline.com

SAAT ini ada sarana rekreasi permandian baru untuk umum waterboom di Kelurahan Bonggoeya, Kecamatan Wuawua Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) resmi dibuka untuk umum. Investasi yang telah ditanamkan dalam usaha itu mencapai Rp11 miliar lebih.

Menurut General Manager Waterboom Palm Mas Kota Kendari, Panggih Rahardjo, di Kendari seperti yang dikutip dariantaranews.com mengatakan kami membangun waterboom ini selama dua tahun, sejak 2009 dan untuk menarik minat masyarakat, kami melengkapinya dengan berbagai sarana meliputi kolam arus, papan luncur, gold car, ballroom serta kantin tradisional.

“Luas kawasan waterboom itu sekitar 2,5 hektare dari rencana keseluruhan sekitar 4 hektare. Untuk saat ini luasnya baru 2,5 hektare, namun secara keseluruhan sekitar 4 hektare. Kami masih akan memperluas lagi dengan membangun kolam untuk orang dewasa dengan ukuran 25 X 50 meter," ujarnya.

Menyinggung tarif masuk untuk pengunjung, mantan Pengelola permandian Wonua Manapa di Konawe Selatan mengatakan, setiap pengunjung dikenakan Rp50.000.

"Biaya masuk Rp50.000, namun untuk anak sekolah SD hingga SLTA akan mendapat diskon pengurangan bila yang datang itu dalam bentuk jumlah besar (kelompok)," ujar Panggih.

PETA WAKATOBI



PETA KOTA KENDARI